Tampilkan postingan dengan label kreatifitas. Tampilkan semua postingan
KEBERADAAN Qanun Aceh tentang
Bendera dan Lambang Aceh merupakan amanah dari hasil Memorandum of
Understanding (MoU) antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah
Indonesia yang di tandatangani kedua belah pihak di Helsinki, Finlandia pada
tanggal 15 Agustus 2005 yang lalu yang tertuang dalam poin 1.1.5 MoU dengan
bunyi “Aceh memiliki hak untuk menggunakan simbol-simbol wilayah termasuk
bendera, lambang dan himne”.
Rintik-rintik berjatuhan, disertai
kilatan. Tampak samar ku lihat bayangan pohon dari balik koseng jendelaku.
Angin perlahan menggoyangkan dedaunan. Mengibas-ngibas dinginnya kegelapan
malam. Bulan bersembunyi di balik tumpukan awan hitam. Seolah malu menatapku.
Ada Apa Dengan Pengesahan Bendera Bulan Bintang di Aceh?
Posted by HIMIPOL UNIMAL on Jumat, 29 Maret 2013
Oleh Safrizal*
KEBERADAAN Qanun Aceh tentang
Bendera dan Lambang Aceh merupakan amanah dari hasil Memorandum of
Understanding (MoU) antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah
Indonesia yang di tandatangani kedua belah pihak di Helsinki, Finlandia pada
tanggal 15 Agustus 2005 yang lalu yang tertuang dalam poin 1.1.5 MoU dengan
bunyi “Aceh memiliki hak untuk menggunakan simbol-simbol wilayah termasuk
bendera, lambang dan himne”.
Kemudian poin 1.1.5 MoU tersebut di
masukan dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh
(UUPA) sebagai rujukan penyelenggaraan pemerintahan di Aceh yang tertuang dalam
BAB XXXVI Pasal 246 ayat (2) UUPA dengan bunyi “Selain bendera merah putih
sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (merah putih adalah bendera nasional dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia 1945), Pemerintah Aceh dapat menentukan dan menetapkan
bendera daerah Aceh sebagai lambang yang mencerminkan keistimewaan dan
kekhususan” dan ayat (3) dengan bunyi “Bendera Aceh sebagai lambang
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bukan merupakan simbol kedaulatan dan tidak
diberlakukan sebagai bendera kedaulatan di Aceh”. Sehingga ayat (4) dengan
bunyi “ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk bendera sebagai lambang
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di atur dalam Qanun Aceh yang berpodoman
pada peraturan perundang-undangan”.
Selain itu mengenai lambang Aceh
juga di tegaskan dalam pasal 247 ayat (1) UUPA dengan bunyi “Pemerintah Aceh
dapat menetapkan lambang sebagai simbol keistimewaan dan kekhususan dan ayat
(2) dengan bunyi “ketentuan lebih lanjut mengenai lambang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) di atur dalam Qanun Aceh.
Sehingga dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) pada hari Jumat tanggal 22
Maret 2013 bahwa Qanun Aceh tentang Bendera
dan lambang Aceh disahkan untuk digunakan sebagai Bendera dan Lambang Aceh,
namun yang digunakan adalah Bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada
periodeisasi konflik Aceh sebagai bendera Aceh.
Namun setelah dilakukannya
pengesahan oleh DPRA menuai berbagai kritik dan saran dari kalangan public
terhadap bendera bulan bintang tersebut, kenapa dan mengapa itu terjadi?
| Bendera dan Lambang Aceh |
Ini alasan mereka:
- Pengamat Politik yang juga merupakan Dosen Universitas Malikulsaleh, Lhokseumawe, Alchaidar menerangkan, dirinya yakin bahwa penggunaan bendera yang merupakan bendera GAM pada masa dulunya untuk dijadikan bendera Aceh akan di tolak oleh pemerintah pusat. "Saya yakin Jakarta tidak akan menerima penggunaan bendera ini sebagai bendera Aceh," ulasnya. Bahkan Alchaidar sangat menyayangkan sikap ngotot yang ditunjukkan oleh lembaga legislatif dan eksekutif di Aceh terkait penggunaan bendera dan lambang yang pernah digunakan oleh GAM pada dulunya dijadikan sebagai lambang daerah Aceh. "Saya menyayangkan hal ini, karena ini sama saja mulai membukan konfrontasi dengan pusat, dan tentunya hal ini akan menyita dan menguras energi politik Aceh," tuturnya. Menurutnya, benturan politik antara Aceh dan pusat akan berdampak luas terhadap Aceh. "Energi pemerintah Aceh akan habis untuk mengurus hal-hal seperti ini," tukasnya. (waspada)
- Anggota Komnas HAM Otto Nur Abdullah "Jadi, ini seolah-seolah produk tirani mayoritas, tidak mempertimbangkan keanekaragaman etnis dan aspirasi politik di Aceh," Otto menyarankan agar bendera Aceh direvisi, sehingga bendera yang baru nanti dapat menimbulkan persatuan di wilayah Aceh secara keseluruhan. Dan, bukan kemenangan satu golongan politik saja," kata Otto (www.bbc.co.uk)
- Mantan Gubernur Aceh drh. Irwandi Yusuf mengatakan "Sebagai eks Gerakan Aceh Merdeka, kami tetap mendukung bendera Aceh yang berlambang 'bulan bintang' tersebut,". Irwandi nenambahkan bahwa Bendera dan Lambang itu yang telah disahkan oleh DPRA memang bukti sebagai simbol kedaulatan Aceh. Menurut Irwandi semua elemen GAM sejak dahulu ingin memperjuangkan bendera dan lambang ini bisa terwujud dan berkibar di seantero Aceh. (theglobejournal.com)
- Bendera dan Lambang Aceh bukan lambang separatis, sebab terhitung sejak penandatanganan kesepakatan bersama (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) maka orang dan atribut GAM tidak tergolong separatis lagi. Pandangan itu diungkapkan Edrian, Kepala Biro Hukum Sekretariat Daerah (Setda) Aceh di Banda Aceh. Edrian mengatakan, setelah qanun bendera dan lambang Aceh disahkan oleh DPR Aceh pada Jumat (22/3/2013), Pemerintah Provinsi Aceh pada tanggal 25 Maret 2013 resmi menetapkan bendera bulan bintang dan lambang singa-burak tersebut ke dalam lembaran Aceh qanun Nomor 3 Tahun 2013. Maka, dari segi perspektif hukum qanun bendera dan lambang Aceh itu sudal legal. Meski demikian, lanjut Edrian, Pemerintah Pusat berhak mengoreksi kembali terhadap subtansi qanun bendera dan lambang Aceh yang telah disahkan itu, namun koreksi itu tidak dilakukan secara sepihak. (regional.kompas.com)
- Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Aceh, Teuku Adnan Beuransyah, meminta Pemerintah Pusat tidak melarang pengesahan Bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dia menegaskan bendera itu tetap akan menjadi Bendera Aceh meski ditentang oleh Kementerian Dalam Negeri. "Kami sebagai wakil (rakyat), bertanggungjawab terhadap pengesahan itu. Meskipun kami dicincang, tidak akan mengubah. (news.okezone.com)
- Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, setiap daerah memiliki lambang dan bendera sendiri, seperti halnya partai atau organisasi lain, termasuk Provinsi Aceh. Namun, ujar dia, faktor persatuan Indonesia tetap harus menjadi rujukan utama. Menurut Kalla, bendera baru Aceh yang ditetapkan DPR Aceh menjadi persoalan karena menyerupai bendera milik Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kalla berkeyakinan masyarakat Aceh tidak ingin lagi punya masalah dan konflik. Oleh karena itu, ia berharap polemik bendera bisa diselesaikan. (kompas.com)
- Pimpinan Partai Aceh menyatakan keberadaan bendera Aceh yang baru disahkan tidak bertentangan dengan hukum, sehingga pemerintah pusat diminta untuk menghormatinya. "Saya pikir tidak bertentangan dengan hukum," kata Wakil Sekjen Partai Aceh Darmawati. Menurutnya, keberadaan bendera Aceh yang baru disahkan DPR Aceh sesuai kesepakatan perdamaian RI-GAM pada 2005 di Helsinki, Finlandia. "Saya pikir tidak bertentangan dengan hokum. Jadi Pemerintah RI harus menghormati itu." (bbc.co.uk/indonesia)
- Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri, Reydonnyzar Moenek menyatakan, sesuai PP no 77 tahun 2007 tentang lambang daerah, logo atau bendera daerah tidak boleh menyerupai lambang separatis. Presiden, menurut Reydonnyzar, berhak membatalkan peraturan daerah yang bertentangan dengan aturan diatasnya. (bbc.co.uk/indonesia)
- Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen TNI Zahari Siregar, mengatakan peraturan pemerintah memang membolehkan pemerintah daerah mengibarkan bendera dan lambang lokal, namun dengan catatan bukan bendera atau lambang bekas separatis. “Kalau bisa jangan prematur. Jangan sampai direalisasi di lapangan tanpa dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pemerintah pusat,” ujar Mayjen TNI Zahari Siregar. Zahari mengatakan Peraturan Pemerintah nomor 77 tahun 2007 yang menyebut lambang-lambang daerah itu bisa diterbitkan dan dikibarkan sepanjang tidak melanggar UU yang berlaku. (atjehpost.com)
Itulah tanggapan para pihak terkait bendera dan lambang Aceh
baik berupa kritik maupun saran yang disampaikan setelah pengesahan Qanun Aceh
Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Bendera dan Lambang Aceh.
Jadi, menurut Penulis bahwa bendera Aceh bertentangan
dengan Pasal 6 ayat (4) PP Nomor 77 Tahun 2007 tentang bendera dan lambang daerah dengan bunyi “Desain logo dan bendera daerah tidak boleh mempunyai persamaan
pada pokoknya atau keseluruhannya
dengan desain logo dan bendera organisasi terlarang atau organisasi/perkumpulan/ lembaga/gerakan separatis dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Namun justru PP tersebut yang dapat menganggu perdamaian
Aceh serta goyangnya keutuhan NKRI sendiri jika pemerintah pusat dengan terus
menerus melakukan langkah-langkah politik yang tidak mencerminkan kemajuan
rakyat di wilayahnya yang khususnya seperti Aceh, dan hal ini menjadi kecurigaan rakyat Aceh sendiri terhadap masa depan daerahnya dalam NKRI.
Padahal dalam UUPA Pasal
1 ayat (2) sangat jelas disebutkan “Aceh
adalah daerah Provinsi yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang bersifat
istimewa dan diberikan kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dalam system dan prinsip Negara Kesatuan Repeblik Indonesia
berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, yang
dipimpin oleh seorang gubernur”.
Dengan demikian penulis harapkan polemik tentang keberadaan bendera dan lambang Aceh yang telah disahkan DPRA tersebut dapat segera diselesaikan oleh Pemerintah Pusat, karena itu kewenangan presiden untuk mengklarifikasinya. Sekian terima kasih
*Safrizal adalah Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Unimal (HIMIPOL UNIMAL)
Baca juga:
- Qanun Aceh Tentang Bendera dan Lambang Aceh
- MoU GAM-RI
- UUPA
- PP Nomor 77 Tahun 2007 Tentang Bendera dan Lambang Daerah
[Cerpen] Kenangan
Posted by HIMIPOL UNIMAL on Jumat, 09 November 2012
KENANGAN
By Asriatun*
[Mahasiswi Ilmu Politik Unimal Angkatan 2012]
Rintik-rintik berjatuhan, disertai
kilatan. Tampak samar ku lihat bayangan pohon dari balik koseng jendelaku.
Angin perlahan menggoyangkan dedaunan. Mengibas-ngibas dinginnya kegelapan
malam. Bulan bersembunyi di balik tumpukan awan hitam. Seolah malu menatapku.
“Ah, apa-apaan ini, apa yang di
pikirkan langit. Kenapa tiba-tiba hujan, bukanya tadi langit tampak baik-baik
saja” Muncul spekulasi dan berbagai opini membucah dan berdesakan dalam sel-sel
otak ku.
“Apa mungkin langit merasakan hal
yang sama”. Yah, itu mungkin. Apa langit mewakili perasaanku yang sedang
dalam duka. Apa-apaan dunia ini begitu tega melihat aku terlunta-lunta dalam
kesedihan. Belum cukup kebahagian ku sendiri yang aku korbankan demi mereka.
Belum cukup puas?.
“Itu langit. Ya, langit yang sedang
menangis, tepatnya nangis darah”. Membanting pintu kamar . ku rebahkan tubuhku
yang kaku ke tilam yang agak lusuh . Memikir dan menimang-nimang jalan
pikiranku yang terlalu kaku dan kusut. Seperti kumpulan benang-benang yang tak
lagi dapat dipisahkan antara pangkal dan ujungnya. “Apalagi ini?, belum cukup
manusia-manusia busuk itu mendapatkan apa yang sebenarnya menjadi milikku?”,
pertanyaan itu hadir perlahan, satu persatu bejajar rapi di anganku.berharap mendapatkan
jawaban yang pasti. Aku terpaku menatap langit. Menyeringai sediri dalam hati.
Mencoba menelisik secara lebih menyeluruh gambaran muka langit yang pucat.
Sementara yang lain berleha-leha
dengan girangnya. Menikmati setiap hembusan nafas mereka dengan senyum bahagia,
ah, mungkin juga palsu. Jaman sekarang sulit menemukan sesuatu yang masih original.
Sedikit sekali bahkan yang mengagung-agungkan kejujuran. Semua tak ada yang
tampak bebeda dari mereka. Imitasi semua. Senyum, sabar, tawa, marah. Tak
tampak jelas lagi. Aku memilih bersandar di teras rumah, rintik-rintik itu
menyentuh lembut permukaan kulitku. Kibiarkan mereka membelai lembut
kulit-kulit yang kusam karna terik yang membakar siang tadi. Bau tanah
menyeruak menembus penciumanku, “Bau ini, bau yang selalu kurindu”. Kubiarkan
bau ini berjalan menembus hidungku dan mengalir bersama aliran darahku.
Memenuhi tubuhku yang mualai basah karna hujan.
Ku sadari tubuh ini mulai menggigil,
aku bangkit dan berjalan perlahan ke dalam kamar. Tampak di sudut kamar
sebuah cermin kecil. Kupandangi perlahan.
“kau
sedang pikir apa?”
“Loh,
kok ?” melotot. Otot-otot mata sedikit menegang.
“Jangn
terkejut, tenanglah !. ini aku?”
“kamu,
aku?”
“Laiya,
aku ini kamu”
Aku melihat diriku dalam cermin, dia
persis seperti aku rambut, mata , hidung, dan semunya. Ini benar-benr
aneh. Tiba-tiba kilat menyambar perlahan, gambarku pecah dan bayangan ku
menghilang perlahan, aku tersadar dalam lamunku. Dan kulihat hujan belum juga
reda.
“Hujan?” desis ku perlahan memecah
keheningan.
Hujan kini mengingatka ku tentang
hari-hari terakhir sekolah, perlahan rasanya waktu berlalu begitu cepat,
merangkul-rangkul usia ku yang semkin dewasa. Saat-saat bersama mereka ,
berbagi canda, tawa, tangis, bahagia, marah kesal semua rasa bercampur menjadi
satu memenuhi memori otakku yang akhir-akhir ini terlalu sibuk memikirkan
tugas-tugas. Aku bangkit menghapiri hape yang ku letakkan di atas meja,
perlahan aku membukanya. Dan yang pertama ingin kulihat adalah wajah-wajah
polos teman-temanku. Sedikit geli rasanya ketika aku melihat satu persatu
lembaran foto mereka. Gaya-gaya aneh mereka mebuat aku tak bisa menahan tawa,
ada-ada saja kekocakan mereka.
Kembali kurebahkan tubuhku perahan,
memejamkan mata berharap esok masih bisa kembali terjaga. Memulai rutinitas
seperti biasa. Perlahan mata mulai menutup menembus dinding waktu dalam
cakrawala mimpi. Keheningan menganga.
***
Perlahan kubuka mata, sayup-sayup kulihat
cahaya menembus celah-celah tirai kamar.“Pagi kembali datang”. Aku bangkit dan
berjalan dalam kegelapn subuh menelusuri setiap sudut ruangan. Kulihat jam
menunjukan pukul 04.57. Ku kuatkan diriku berjalan ke kamar mandi untuk
berwudhu’. Membasuh perlahan setiap anggota wudhu’ ku. Kusujudkan diriku ke
pangkuan Ilahi Rabbi. Menjalani kewjiban ku sebagi insan di bumi . Aku duduk
bersipuh di pangkuanNya. Perlahan Air mata menetes membasahi pipiku. “ Engkau
yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ampunilah dosa hamba, Jangan biarkan
hamba tersesat begitu jauh, permudahlah segela yang sukar, limpahkanla
kebahagian kepada orang yang hamba cintai dan yang mencintai hamba ya Allah.
Ampunilah Dosa-dosa orang tua hamba ya Allah”. Air mata terus
saja mengalir.
Dalam sujud, keheningan menyeruak
menembus dinding-dinding waktu. Aku hanyut dalam dekapan lembut Sang Khalik,
untuk sesaat. Kubuka kemabli mata perlahan, menerawang jauh ke sudut jendela.
Kulihat fajar mulai semakin bersinar. Bergegas kulangkahkan kaki ke kamar mempersiakan
segala keperluan untuk sekolah
***
Jantungku berdegup kencang, kudengar
seluruh ruang kelas menggema lantunan ayat suci Al-Qur’an.
“Ya Allah, telat hari ini,
jangan-jangan ibu Sri sudah datang lebih dahulu. Bagaimana ini ya Allah”.
Kalimat itu begitu terngiang-ngiang di kepalaku, aliran darahku seolah mengalir
begitu cepat. Menerobos begitu saja keluar tanpa kendali dari serambi
jantungku. Aku tertuduk lesu. Kukuatkan kaki untuk terus berjalan. Bukan karna
Ibu Sri guru yang Kejam, tapi justru keramahan dan kelembutan hatinyalah yang
membuat aku menjadi seperti ini,
Aku tersentak , semua mata tertuju
padaku sekarang. Mereka menertawaiku. “haha, mati lampu ya ?”. aku ternganga,
tak sempat aku menjawab pertanyaan mereka, aku menundukkan kepalaku. “
Masyaallah, kenapa bisa seperti ini, kenapa aku bisa sampai salah memakai
seragam sekolah”. “Apa yang terjadi padaku sebenarnya. Ada apa dengan hari
ini”. Perlahan aku berjalan menghampiri ibu sri yang sedang duduk di atas kursinya.
“ Knapa Nak, kok bisa salah pakai seragam, lagi bnyak pikiran ya makanya gak
konsen ?”. “ Jika di izinkan saya ingin pamit pulang untuk menggati seragam”.
Aku tertunduk malu, malu hati hari ini kepada teman-temanku. “ Iya, gak papa
kok Nak, tapi jangan lupa minta izin piket ya Nak. “Iya Bu, makasi bu”.
***
Aku tertengun, keresapi hari ini
dengan sangat apik. Kubiarkan sel-sel otakku mengunyah segala informasi dengan
baik, sehingga data-data yang dikirim panca indraku dapat diproses secara
sempurna.
“hai, ngelamunin apa hayoo?.”
“Ah,
kau mengagetkanku saja.”
“
Lagian siapa suruh ngelamun.”
“
Yee, siapa juga Yang ngelamun, sok tau.” Perlahan, aku tenangkan pikiranku.
“Asri,
ayolah. Aku ini temanmu. Masa kau bersikap begitu padaku
“Maaf
, pikiranku sedang kacau?”
“Tenanglah,
lupakan hari-hari sulit ini. Lupakan semua ksedihan, tangisan. Itu hanya akan
semakin menyulitkan kehidupan kita. Tak ada gunanya menyesali yang telah
terjadi. However the past remain the past, will never be the future. But,
our action in the past shows how our future.”
Kata-kata itu menyadarkan aku, aku
tersentak, kulihat dia berlalu pergi menjauh dariku, pesan-pesan itu megugah
hati. Kuterwang kembali pikran pikiranku ke masa lalu, masa dimana aku mulai
memijakkan kaki di sekolah ini, kenanga-kenangan manis putih abu-abu. Kala aku
tersudut, terjebak, teremehkan, bahkan dicibir oleh mereka-mereka yang sedikt
lupa diri. Kenangan MOS bersama teman-teman, membersihkan pekarangan sekolah
dibwah terik, bahkan menikmati hidangan makan siang denagan bekal yang
seadanya. Disitulah titik kenikmatan yang luar biasa mulai kurekam. Dimana
kebersamaan itu lebih dari segalanya. Saling berbagi walau hanya dengan
sepotong ikan asin. Rasanya di sana kemewahan hanya akan menjadi sesuatu yang
sangat membosankan. Terkurung dalam ruang mengah namun pengap, terbatasi
gerak-gerik karna rasa was-was akan kejahatan. Terkurung sendiri dengan makanan
Fast Food yang lama-lama juga akan basi dengan sendirinya.
Kengan-kenangan itu membiusku
semakin hanyut dalam samudra masa lalu, ketika aku ditempatkan di sebuah ruang
kelas yang begitu jauh dari targetku, namun aku tetap mensyukurinya. Di sanalah
aku memulai interaki dengan kawan baruku, hari pertama duduk di antara mereka
membuat aku nyaman. Begitupun hari-hari berikutnya. Semua seolah berlalu begitu
cepat. Jarum jam seolah berlari menembus masa. Tak terasa enam bulan berlalu
begitu cepat saat-saat penantianku akhirnya tiba, prosesi pembagian rapor yng
begitu aku nanti-nanti. Ibuku yang sejak pagi tadi telah bersiap-siap untuk
kesekolahku berangkat dengan hati gelisah.
“ Ya Allah, bahagiakanlah ibu hamba,
jangang pernah engkau biarkan raut wjahnya bersedih hari ini”.
Aku menunggunya kembali dengan
membawa berita gembira, mondar-mandir langkahku kesana–kemari. Sesekali kubuka
perlahn tirai jendelaku, berharap Dia telah kembali. Lama kutunggu ,namun
akhirnya Ibu kembali dengan wajah gembira. Kurangkul tubuhnya dan kukecup kedua
pipinya.Ibuku terharu, bagaimana tidak bertahun –tahun aku menempuh pendidikan
selalu saja aku tersudutkan oleh perlakuan diskriminatif . hanya karena aku
terlahir dari keluarga yang tidak mampu, mereka berlaku keji padaku. Sekeras
apapun usahaku menjadi yang terbaik, semau hanya akan sia-sia. Kusadri betul
memang aku adalah bagian dari ketidak sempurnaan hidup mereka. Karena penilaian
manusia hanya mengacu pada kapasitas fisik semata,. Dan mungkin aku bukan
termasuk kiriteria yang mereka cari.
Namun ku akui atau tidak, aku merasa
belum puas dengan apa yang telah aku capai. Bagaiamana tidak, orang-orang
disekitarku memandang aku dengan sebelah mata. Pencapaiaku itu hanya karena
kawan-kawan ku memiliki IQ yang berada dibawah rata-rata. Aku jatuh, tersungkur
dalam lubang ketidak berdayaan. Aku ingin lebih, semangatku mengebu. Kubulatkan
tekat untuk menjadi lebih baik. Bagaimanapun Today should be better than
yesterday. And should be better tomorrow than today. salah satu
prinsip hidup yang aku pegang hingga saat ini. Satu hal yang ku sesali
adalah ternyata harapanku pupus sudah, aku tak mampu untuk lebih membahagiakan
Ibuku . karna tak lam setelah itu Ibu Menghembuskan nafas terakhirnya.
Hari-hari berlalu bitu saja, tak
yang berarti lagi, semua yang telah aku capai dengan susuah apayah hanya akan
jadi angin lalu, tak ada lagi senyum bahagia ibu, tak ada lagi senyum
kebanggaan dari Ibu. Semua hanya akan tersa hampa. Tak tau lagi semua
pencapaian ini untuk siapa.
Pencapaian yang ku raih dengan susah
payah akhirnya membuat aku semakin kecewa. Bayangan kata Putu Wijaya
Terngiang-ngiang di kepalaku “ Kemenangan melahirkan musuh, kau akan
masuk dalam lingkaran kecemburuan. Disekitarmu bergetar rasa iri. Kau senyum
dianggap mengejek, bila tertawa dikira sombong, bahkan bila diam dicap angkuh,
tetapi mengatakan kalah disaat menangpun guna menjaga perasaan orang lain pasti
dianggap munafik. Wahasil kemenangan adalah kekalahan yang keji”. Begitula aku
kini, masa-masa sulit ini ku lalui sendiri. Hatiku kini menjadi semakin beku
tak kala orang-orang dismpingku mencibirku dengan halus namun menusuk,
menuduhku dengan pikiran-pikiran picik yang begitu ngeri. Aku terlunta-luna
mencari pengamanan hati. Kutabahkan hatiku hanya demi beberapa bulan lagi.
Walau dunia terlihat semakin tidak
menarik lagi, kukubur dalam-dalam perasaan kecewaku ini, aku tidak ingin
membuat orang –orang di sekitarku kecewa. Kubiarkan kata-kata mereka hanya
menjadi angin lalu belaka. Menembus masuk begitiu saja dari telinga kiri dan
keluar dari telinga kanan tanpa ada Filter.
Bell berbunyi, dan kini aku harus
berjalan di kenyataanku lagi.












![OSPEK TAHUN AKADEMIK 2011-2012 Calon Mahasiswa yang telah mendaftarkan diri di Universitas Malikussaleh [Unimal], mengikuti Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus [OSPEK] yang di laksanakan di kampus induk Unimal Reuleut Kecamatan Muara Batu Kabupaten Aceh Utara. Selasa [6/9/2011]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgW1RDuS47ce5YG1zeoA2_Hw6MxdIuJM0-KUxMM5xFb_wSdFHIjRd3Na9KY2sYwbmWA9NckRcryJrhoes4Y7T5Ytt6HLMD2lFNlnlAa6G1IbLWnKFxVezJFft111ygPkDtzWPL9MV81iuw/s640/Ospek+Tahun+Akademik+2011-2012.jpg)





